karena situasi berkembang ke dalam kondisi yang berbeda dengan pada zaman nabi, maka berbagai pemikiran yang terkandung dalam al-Quran segera dirasakan membutuhkan penafsiran ulang.
Dasar metode tafsir bintusy-syathi adalah diktum yang dikemukan para musafir klasik "AL-Quran menjelaskan dirinya sendiri dengan dirinya sendiri " (tafsir ayat dengan ayat)- meskipun para mufasir klasik tidak menerapkan diktum tersebut secara sistematis.
Buku ini membahas tentang Ulumul hadist dan ushul al-hadist , menyajikan contoh aktual bagi setiap bagian dari ilmu hadist , memperkenalkan tokoh tokoh yang namanya tersebut didalam buku , penyusun dengan cermat dan indah menulis berbagai pendapat yang kontroversial, lalu mempertemukan pendapat pendapat tersebut yang lahiriah bertentangan.
Buku ini telah mampu menyederhanakan pembahasan sejumlah masalah pokok al-Qur'an sehingga bagi saja yang ingin mengetahui seluk beluk tentang al-Qur'an, bisalah dianggap memadai. Namun demikian, masalah-masalah yang dikemukakan sungguh luas, dari soal penamaan al-Qur'an dan akar katanya sampai kepada Daya Mu'jizat (I'jaz) al-Qur'an serta I'jaz dalam irama al-Qur'an.rn